Diposkan pada Tur Studi Sosial

Cireng Bandung Isi Enak Rasanya

(postingan akan di update kalau udah ada bahan). Silahkan berkomentar dulu ya!!! Pasti lah blogger udah pernah mencoba makanan lezaaaaaaaaaaaaat ini.

Iklan

Penulis:

Arek Pacitan Asli; Suka Belajar; Suka Membaca; Suka Menulis; Jogging Tiap Selasa, Jumat dan Minggu; Elegan; Ramah; dan Bersahaja

24 tanggapan untuk “Cireng Bandung Isi Enak Rasanya

  1. dateng aja ke terminal ledeng

    trus turun ke bawah

    ada warung apa gituuuuuuuuuuuuuu

    ada embel-embel juzz

    di situ enak banget cirengnya

    yang deket mesjid nurul huda tea…

    rame banget apalagi di bulan ramadhan ini.

    Suka

  2. yeeeeeeeeeesssssssssssssssssssssssssssss

    akuuuuuuuuuuuuuuuuu suuuuuuuuuuuuuuuuka

    ciiiiiiiiiiiireeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng

    isiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

    cepeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetan beliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

    Suka

  3. Udah jadi rahasia umum, kalo bandung tuch surganya makanan enak. gak cuma enak but kreatifitas warganya bikin makanan yang dah dari jaman baheula pun bisa ngikutin perkembangan jaman. salah satunya ya cireng, cireng adalah sejenis penganan minum kopi yang di goreng.

    Suka

  4. Buat yang belum tau cireng apa, cireng tuch singkatan dari aci yang di goreng or kata lainnya adonan tepung sagu yang digoreng dan di tengahnya di isi dengan oncom. So, kalo di tukang gorengan, selain tahu isi goreng, tempe goreng, pisang goreng, combro, biasanya ada juga cireng nyempil diantaranya.

    Suka

  5. Cireng original, yang cukup populer lokasinya ada di halaman kantor pos Jl.cipaganti, bukanya agak siang sekitar jam 12. Bentuknya bulet dengan isian oncom di dalamnya. Oncom yang diisikan sepertinya punya resep khusus soalnya berasa manis, asin, pedes. Gak cukup satu kalo udah nyicipin cireng ini,,,hehhe,,,dijamin minta tambah lagi..soal harga cireng original ini berkisar 600 s.d 1000 deh.

    Suka

  6. Lalu cireng rampat tuch apa…Adonan dasarnya tepat sama tepung sagu kayak cireng original..but isi dan bentuknya aneka rupa. Untuk isinya selain oncom sebagai isi original, ada pilihan ayam, daging, kacang tanah, keju dan sosis. So penikmat makanan bener2 di manjain dengan berbagai rasa deh. Sedangkan ukurannya cukup besar, 2x ukuran cireng original deh. Bentuknya pun macam-macam, ada yang bulat, persegi panjang, bintang, maupun pastel. Sebenarnya di Bandung ada beberapa cabang dari cireng rampat ini. Tapi yang sering saya kunjungi yang lokasinya di Jl.Banteng persis di halaman parkir alfamart, soal harga? mm….murah meriah deh berkisar 1000 -1500 per pieces.

    So, kalo bosen dengan ole2 Bandung yang dah umum. Cireng original or cireng rampat bisa dijadiin pilihan deh….

    Suka

  7. BROWNIES KUKUS AMANDAdisebut oleh-oleh paling megang’ dari Bandung. Kue cokelat ini sejak beberapa tahun terakhir memang sangat ngetop. Rasanya, pulang dari Bandung tanpa brownies ini, seperti ada yang kurang. Siapa sangka, ketika memulai usaha dulu, kios brow­nies ini sempat terkena gusur.

    KREATIWTAS MODIFIKASI RESEP
    Kesuksesan brownies kukus Amanda ini mengagumkan. Bayangkan, dalam satu hari, lebih dari 1.000 loyang kue habis diserbu pembeli. Siapa menyangka, kue lezat ini merupakan hasil kreasi seorang ibu rumah tangga yang memodifikasi resep kue bolu kukus.

    Berawal dari ketidakpuasan mencoba resep bolu kukus dari seo­rang adiknya, Hj. Sumiwiludjeng (67), pada akhir 1999, mulai mengutak-utik resep itu untuk mendapatkan rasa yang lebih enak. Bagi indra pengecap Sumi, lulusan Tata Boga IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), rasa bolu cokelat itu kurang nendang’.

    Memasak memang bukan sekadar hobi bagi Sumi. Istri pensiunan pegawai PT Pos Indonesia ini sejak dulu memanfaatkan kepandaian­nya memasak untuk menambah pemasukan keluarga, H. Sjukur Bc.AP (69). Sumi, dibantu putra sulungnya, Joko Ervianto (41), menerima pesanan kue dan makanan untuk arisan hingga pesta perkawinan. Namun, usaha ini masih bersifat industri rumahan.

    “Ketika akhirnya menemukan formula yang pas untuk bolu ku­kus cokelat itu, katering kami mulai menawarkan kue itu kepada pelanggan,” tutur Atin Djukarniatin (41), istri Joko, yang ikut serta membesarkan toko kue ini.

    Menurut Atin, ketika ditawarkan kepada konsumen katering­nya, kue cokelat itu langsung jadi favorit. Rupanya, tekstur lem­but dan paduan rasa cokelat yang mantap, membuat kue ini gampang disukai. “Banyak orang yang kemudian mulai memesan kue, yang dulu hanya disebut kue bolu cokelat saja,” tutur Atin. Joko, yang melihat potensi pasar kue itu, mengeluarkan kue tersebut dari daftar salah satu menu dalam katering, menjadi produk yang berdiri sendiri. “Akhirnya, agar lebih dikenal orang, kami men­cari nama jenis kue yang baru ini. Lalu, tercetuslah nama brownies kukus,” ujar Atin.

    Mengapa brownies kukus? Menurut Atin, karena tekstur kue dan warnanya yang cokelat pekat ini mirip tekstur kue brownies. Selain itu, nama brownies kukus lebih mengena di telinga calon konsu­men sehingga mereka penasaran mencicipinya.

    Setelah mendapatkan nama brownies kukus, awal tahun 2000 Joko dan Atin membuka sebuah kios kaki lima di kompleks pertokoan Metro, Margahayu, Bandung, untuk menjualnya. Meski disukai kon­sumen katering, ketika pertama kali ‘dijual bebas’, brownies kukus itu kurang menarik minat pembeli.”Orang yang lewat memang meno­leh dan penasaran dengan nama brownies kukus, namun tidak banyak yang membelinya,” ujar Atin.

    Tak kurang akal, Atin lalu menjual kue itu dalam bentuk kue po­tong seharga Rp1.000 per potong. Dengan cara ini, ternyata bisa laku 150-250 potong atau 3-5 loyang ukuran 24 x 24 cm. Sayangnya, usaha yang baru berkembang ini tak bisa bertahan, karena pertokoan Metro terbakar.Akibatnya, kios brownies kukus pun ikut tergusur dan pindah ke J1. Tata Surya 11, yang masih terletak di kompleks yang sama. Anehnya, pindah lokasi di perumahan bukannya meredupkan rezeki, malah menjadi titik terang bisnis brownies kukus ini. Di sini, keuntungannya justru berlipat ganda.

    Bisnis Keroyokan keluarga
    Sukses menggaet pelanggan baru membuat Joko berpikir untuk memberi brand agar lebih komersial. “Kami lalu terpikir meng­hidupkan kembali CV (commanditaire vennootschap) Amanda, per­usahaan yang pernah dimiliki Ibu, ketika masih memiliki usaha kantin dan salon potong rambut,” tutur Atin. Tahun 2001, kue itu punya nama resmi, yaitu Brownies Kukus Amanda. Dalarn terminolo­gi Sumi, Amanda adalah akronim dari Anak Mantu Damai atau anak dan menantu harus selalu hidup rukun dan damai.

    Joko, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung, juga menaruh nama Brownies Kukus Amanda pada kardus pembungkus, agar lebih profesional. Setelah itu, hanya mela­lui promosi darn mulut ke mulut, pamor kue ini melesat. Pembeli berdatangan dan rela antre, terutama menjelang Lebaran. Minat pembeli ini membuat mereka kewalahan. Maklum, mereka hanya menuliki 3 kompor yang masing-masing untuk mengu­kus satu loyang. Akhirnya, Joko bereksperimen. Dengan bantuan seorang tukang, is mendesain kukusan yang memuat 6 loyang untuk satu kali mengukus. Kocokan adonan pun dibuat khusus, sehingga bisa mengocok untuk 6 resep sekaligus.

    Tahun 2002, mereka pindah ke Jl. Rancabolang No.2 di kawasan yang sama, karena toko yang lama sudah terasa sesak. “Toko yang sekaligus rumah produksi itu hanya berupa bangunan tripleks seluas 4×6 meter,” ujar Ann. Pada periode ini, Brownies Kukus Amanda sudah tenar sebagai oleh-oleh bagi warga Bandung yang hendak bepergian ke luar kota.

    “Kami benar-benar stres karena tidak mampu memenuhi per­mintaan pembeli. Tidak jarang kami harus menghadapi kemarahan dan caci-maki calon pembeli, yang sudah jauh jauhdatang, tetapi tidak kebagian kue,” tutur Atin.

    Masalah itu lagi-lagi diselesaikan Joko dengan mendesain kocokan untuk 20 resep dan kukusan superbesar yang bisa memuat 50 loyang. Tak lama kemudian, Joko juga berhasil mendesain kocokan untuk 300 resep. Setelah itu, permintaan akan Brownies Kukus Amanda jadi tidak terbendung lagi. Tak hanya di Bandung, namanya pun tenar jauh ke luar kota. Kue ini seolah menjadi oleh-oleh wajib bagi orang­orang yang berkunjung ke Bandung. Dalam sehari, meski mengaku tidak mengetahui jumlah pastinya, Atin menyebut angka seribu lebih kue habis terjual. Karyawannya pun kini sudah mencapai 200 orang.

    Selain sukses mendongkrak penjualan, cita-cita Sumi yang tersu­rat dalam nama Amanda juga terkabul. Semua anak dan menantu pasangan Sumi dan Sjukur ikut mengelola bisnis ini dan semuanya hidup rukun. Joko yang menjabat sebagai direktur utama, meminta adik-adiknya, Andi Darmansyah dan Sugeng Cahyono, me­ngelola 4 cabang resmi yang ada di Bandung, yaitu di jl. Cikawao, Antapani, Hyper Square Pasir Kaliki, dan toko mobil di JI. Dago. “Hanya adik ipar saya yang bungsu, Rizka, masih belum tertarik terjun dalam bisnis ini,” ujar Atin.

    Awal tahun 2004, pusat toko mereka pindah ke bangunan perma­nen dua lantai dan berhalaman lapang yang megah di JI Rancabolang No 29, Margahayu, Bandung. Andi dan Sugeng juga ditarik ke kantor pusat untuk memegang jabatan sebagai direktur keuangan dan direktur operasional. Sementara itu, pabrik pembuatan Brownies Kukus Amanda tetap di JI. Rancabolang 2. Tahun ini pun Amanda akan membuka cabang barn di Surabaya dan Bogor.

    SUDAH DIPATENKAN
    Walaupun awalnya hanya industri kecil dengan skala rumahan, Brow­nies Kukus Amanda kini dikelola dengan prinsip manajemen modern. Setidaknya, itu terlihat pada upaya untuk membuat pengembangan produk, antara lain adanya 4 rasa barn untuk mendampingi brownies kukus rasa orisinal, yaitu cheese cream, blueberry, tiramisu, dan choco mar­ble sebagai topping. Karena hanya topping, rasa kue orisinal tetap bisa dinikmati pada lapisan bawahnya. Harga Brownies Kukus Amanda kini antara Rp19.500 hingga Rp29.000.

    Pengembangan rasa baru ini, kata Atin, sebagai upaya untuk pe­nyegaran dan memberi rasa alternatif pada pelanggan. Empat rasa itu didapat CV Amanda sebagai hasil kerja sama dengan Akademi Pariwisata NHI (National Hotel Institute) Bandung. Meski begitu, Sumi masih menjadi konsultan untuk soal kelayakan rasa barn itu, sebelum dilempar ke pasaran.

    Brownies Kukus Amanda ini sudah dipatenkan, \.meski Atin mengakui, soal hak paten di Indonesia masih belum punya `gigi’. Atin melihat, banyak pengekor kesuksesan Amanda ramai-ramai mengeluarkan produk bernama brownies kukus.

    Hal lain yang membuat manajemen Amanda gemas adalah banyaknya penjual Brownies Kukus Amanda ‘liar’ di pinggir jalan seantero Bandung. “Memang, mereka membeli putus dari kami untuk dijual lagi. Tapi, kami tetap dirugikan,

    karena tidak bisa mengontrol kualitasnya,” ujar Atin. Ia bercerita, pihaknya sering menerima pengaduan konsumen, yang mendapatkan kue tidak layak makan.”Karena itu, kami mengimbau agar membeli di toko resmi saja,

    Untuk mengatasi hal tersebut, CV Amanda kembali meminta polisi untuk melakukan razia.Ternyata, hanya berhenti sementara. Setelah itu, penjual pinggir jalan itu kembali lagi. “Kami pun akhirnya menyerah. Anggap saja kami berbagi rezeki dengan orang lain,” kata Atin, tersenyum.

    Suka

  8. di dekat borma antapani samping pertigaan jalan ke ARS ada cireng baru namanya “cireng sabana” ueeenakk banget cobain deh pasti ktagihan, bumbunya itu lho khas banget….

    Suka

  9. Emang cireng bdg itu uenaaaakkkkkkkk tnan…. Lumayanlah sebagai penikmat cireng, udh coba bbrp branch cireng yg ada di bdg. Mrk punya ciri khas & kelebihan masing2…
    Cireng keraton, rampat, isi bdg, sabana, apalagi ya…. udh aku cobain hehehe……

    Suka

  10. Cireng merupakan jajanan Bandung yang digemari baik tua maupun muda. Cireng berasal dari kata aci digoreng, aci itu adalah tepung aci atau tepung tapioka. Klasiknya disantap dengan saus sambal dan tanpa isi. Namun kini dengan inovasi baru, cireng ini sudah “bergizi”. Kenapa? Karena kini di kota yang terkenal dengan Factory Outlet-nya ini hadir Cireng Bandung Isi. Setelah sebelumnya CIMOL (aci digemol) menjadi fenomenal untuk sesaat 😀

    Suka

  11. Bentuk-bentuk Cireng Bandung Isi yang populer
    1. Kacang Pedas berbentuk hati
    2. Ayam Pedas berbentuk kotak
    3. Kornet Pedas berbentuk segitiga
    4. Sosis Pedas berbentuk bulan sabit
    5. Bakso Pedas berbentuk bulat
    6. Keju berbentuk bunga
    7. Kornet tidak Pedas berbentuk elips

    Suka

  12. Cireng Bandung Isi yang dijual ini memang belum digoreng dan disimpan dalam beberapa wadah tupperware bersih, sesuai dengan bentuk dan isinya. Selain membeli yang sudah matang, kita pun bisa membeli yang masih mentah untuk digoreng sendiri di rumah. Sedikit tips dari tukang jualannya, katanya jika ingin menggoreng cireng, masukkan cireng dalam keadaan api kecil dan panas minyaknya dan setelah agak matang baru besarkan apinya. Tips ini untuk mecegah agar cireng tidak meletup saat proses digoreng.

    Suka

  13. buat semua penggemar cireng lam kenal aja, boleh minta bantuannya ga gimana ya baik nya saya pengen buka usaha cireng tapi diluar kota bandung, ada yang tau resep membikin cireng ga, terus klo menurut kawan2 semua baik nya saya gimana bikin sendiri apa beli jadi….tolong masukannya dan sarannya terima kasih sebelum nya

    eh iya lupa klo ada yg punya saran bwat saya tolong kirimin ke email saya ya di ale_aza_deh@yahoo.co.id

    c_u….

    Suka

  14. Buat #22 | ale cakra yuda

    Lebih baik beli jadi ajah, coba tanya temen-temen yang lain.

    Coba kunjungi Jalan Sersan Bajuri di Ledeng, di situ ada Istana Cireng. Tanya-tanya dech ama pemiliknya, ramah koq!!!

    Oke, tetap semangat yach…!!!

    ” Selamat Tahun Baru 2009, semoga sukses selalu. Happy new year yah “

    Suka

  15. beuuuh… cireng emang enak

    tapi di garut juga ada yng nm’a cireng isi
    klo mau dateng aja ke garut
    di sana pabalataxxx tukang cireng isi
    ada rasa sapi. danginf\g ayam, abon keju and how many
    gethhu

    Suka

  16. MILIKI USAHA yang mudah dijalankan, dengan produk tradisional bercita rasa modern, memiliki pangsa pasar luas, BALIK MODAL CEPAT malah bisa mendapatkan PASIVE INCOME ditambah Dukungan kemitraan GRATISS!!

    Informasi lengkap kunjungi http://www.cirengisi.com

    Suka

  17. Kalo yang cuman 7 rasa kayak disebutin melati cuman ada di cireng bandung isi, ciri khasnya ada lambang hati (love). Di jakarta udah ada beberapa kounter. Kalo pingin cek tempat2nya, coba aja kunjungi http:\\cirengbandungisi.blogspot.com

    Suka

  18. Kemaren sya cba cireng kraton wktu jln2 dibogor..wow mantab rsna nkmt, apalgi rsa daging pedas duh maknyus krenyus-krenyus. Besoknya jd kefikiran klo jualan cireng didepan toko ane kyana endang gorindang juga aplg musim ujan bgni..! ;-hem..lgsung deh cba2 bikin sndri dan jreng..jreng..jd wkwpun sdkt bda ma cireng keraton krna cireng buatan ane cma dijual rp 1ebu dgn 4 rasa. Sapi,ayam abon & oncom..!lumayan 1hri dpt 150ebu modalna cma 70ebu doank. Kyna kdpan mo expansi ke dpan indo atw alfamart..mau coba cireng suer ( cireng sunda rasa eropa) ala saya..dtg aj kemari.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s