Diposkan pada Tur Studi Kewarganegaraan

Pancasila Sebagai Falsafah Negara

Sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi obyek aneka kajian filsafat. Antara lain terkenallah temuan Notonagoro dalam kajian filsafat hukum, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis, Pancasila telah dinyatakan dalam GBHN 1983 sebagai “satu-satunya azas” dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu agama karena selain unsur-unsur lokal (“milik dan ciri khas bangsa Indonesia”) diakui adanya unsur universal yang biasanya diklim ada dalam setiap agama. Namun rasanya lebih tepat untuk melihat Pancasila sebagai obyek kajian filsafat politik, yang berbicara mengenai kehidupan bersama manusia menurut pertimbangan epistemologis yang bertolak dari urut-urutan pemahaman (“ordo cognoscendi”), dan bukan bertolak dari urut-urutan logis (“ordo essendi”) yang menempatkan Allah sebagai prioritas utama.

Pancasila sebagai falsafah kategori pertama adalah perwujudan bentuk bangunan yang diangan-angankan dalam penggambaran diatas kertas, dan Pancasila sebagai falsafah kategori yang kedua adalah adanya lokasi serta tingkat ketersediaan bahan-bahan untuk merealisasikan bangunan yang dicita-citakan. Pancasila sebagai falsafah yang dimaksudkan adalah tiap sila didalamnya yang (oleh karena perkembangan sejarah) selain masih tetap berfungsi sebagai landasan ideologis, iapun telah memperoleh nilai-nilai falsafi didalam dirinya, yang dapat kita masukkan kedalamnya adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Persatuan Indonesia.

Menurut Hardono Hadi, jika Pancasila menjadi obyek kajian filsafat, maka harus ditegaskan lebih dahulu apakah dalam filsafat Pancasila itu dibicarakan filsafat tentang Pancasila (yaitu hakekat Pancasila) atau filsafat yang terdapat dalam Pancasila (yaitu muatan filsafatnya). Mengenai hal ini evidensi atau isyarat yang tak dapat diragukan mengenai Pancasila terdapat naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata “Bhinneka Tunggal Ika” dalam lambang negara Republik Indonesia. Dalam naskah Pembukaan UUD 1945 itu, Pancasila menjadi “defining characteristics” = pernyataan jatidiri bangsa = cita-cita atau tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa Indonesia. Dalam jatidiri ada unsur kepribadian, unsur keunikan dan unsur identitas diri. Namun dengan menjadikan Pancasila jatidiri bangsa tidak dengan sendirinya jelas apakah nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah terumus jelas dan terpilah-pilah.

Sesungguhnya dalam kata “Bhinneka Tunggal Ika” terdapat isyarat utama untuk mendapatkan informasi tentang arti Pancasila, dan kunci bagi kegiatan merumuskan muatan filsafat yang terdapat dalam Pancasila. Dalam konteks itu dapatlah diidentifikasikan mana yang bernilai universifal dan mana yang bersifat lokal = ciri khas bangsa Indonesia.

Tugas. “Bhinneka Tunggal Ika” secara harafiah identik dengan “E Pluribus Unum” pada lambang negara Amerika Serikat. Demikian pula dokumen Pembukaan UUD 1945 memiliki bobot sama dengan “Declaration of Independence” negara tersebut. Buatlah suatu analisis mengenai perbedaan muatan dalam kedua teks itu.
Suatu kajian atas Pancasila dalam kacamata filsafat tentang manusia menurut aliran eksistensialisme disumbangkan oleh N Driyarkara. Menurut Driyarkara, keberadaan manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain. Oleh karena itu rumusan filsafat dari Pancasila adalah sebagai berikut:

Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada-bersama-dalam-ikatan-cintakasih (“liebendes Miteinadersein”) dengan sesamaku. Perwudjudan sikap cintakasih dengan sesama manusia itu disebut “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”.

Perikemanusiaan itu harus kujalankan dalam bersama-sama menciptakan, memiliki dan menggunakan barang-barang yang berguna sebagai syarat-syarat, alat-alat dan perlengkapan hidup. Penjelmaan dari perikemanusiaan ini disebut “keadilan sosial”.

Perikemanusiaan itu harus kulakukan juga dalam memasyarakat. Memasyarakat berarti mengadakan kesatuan karya dan agar kesatuan karya itu betul-betul merupakan pelaksanaan dari perikemanusiaan, setiap anggauta harus dihormati dan diterima sebagai pribadi yang sama haknya. Itulah demokrasi = “kerakyatan yang dipimpin …”.

Perikemanusiaan itu harus juga kulakukan dalam hubunganku dengan sesamaku yang oleh perjalanan sejarah, keadaan tempat, keturunan, kebudayaan dan adat istiadat, telah menjadikan aku manusia konkrit dalam perasaan, semangat dan cara berfikir. Itulah sila kebangsaan atau “persatuan Indonesia”.

Selanjutnya aku meyakini bahwa adaku itu ada-bersama, ada-terhubung, serba-tersokong, serba tergantung. Adaku tidak sempurna, tidak atas kekuatanku sendiri. Adaku bukan sumber dari adaku. Yang menjadi sumber adaku hanyalah Ada-Yang-Mutlak, Sang Maha Ada, Pribadi (Dhat) yang mahasempurna, Tuhan yang Maha Esa. Itulah dasar bagi sila pertama: “Ketuhanan yang Maha Esa”.

(dari berbagai sumber)

Iklan

Penulis:

Arek Pacitan Asli; Suka Belajar; Suka Membaca; Suka Menulis; Jogging Tiap Selasa, Jumat dan Minggu; Elegan; Ramah; dan Bersahaja

7 tanggapan untuk “Pancasila Sebagai Falsafah Negara

  1. mari kita renungkan : apakah seluruh warga negara telah benar-benar merasa memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi yang terdapat dalam Pancasila? atau Pancasila hanya dijadikan hiasan bibir untuk memperindah ungkapan?

    Suka

  2. heem, , , ,sudah tugas kita sbg generasi muda utk memahami pancasila .

    jika kita sdh paham, kemungkinan besar kita dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari hari
    mungkin pendapat saya terdengar teoritis tetapi saya betul betul memahaminya dan saya terapkan di kehidupan saya. Saya yg hnya ” org katholik” ini pun bisa , mengapa anda tidak?
    sungguh . . . . . . cobalah

    Suka

  3. pesan saya buat generasi muda yang bertenaga dan sehat akalnya…..
    agar tidak terlena dengn keberhasilan kakek nenek kita yang dengan gigihnya memperjuangkan negara indonesia ini…
    tunjukkan prestsimu di tingkat internasional, atau kalau tdk bs, tunjukkanlah di tingkat nasional, jika tdk bs lagi, tunjukkanlah di tingkat kabupaten atau kecamatn setempat, jika tdk bs menunjukkan sumbangsihmu terhadap negara ini maka tunngulah kehancuran negara kita tercinta ini…
    wahai pemuda indonesia…
    harum atau busuknya negara kita ada di pundak kalian..
    jgn budayakn korupsi yg tengah menjadi batu sandungan dan turun temurun dari masa ke masa…
    tunjukkan jiwa nasionalismu…

    Suka

  4. “keberadaan manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain” benar adanya , karena kalau hanya sendirian siapa yang bilang ada. masalahnya adalah apakah hubungan pluribus dengan unus ????

    seringkali pluribus sangat disederhanakan adalah jumlah dari unus, jadi operasinya hanya (+), dan lawannya adalah tanda kurang (-). mengenai ini sejarah mencatan perdana menteri inggeris margaret tacher mengatakan “masyarakat adalah kumpulan dari individual, untuk mempertahankan individualisme, materialisme dan kapitalisme ketika mengintroduksi kembali mazham neoliberalisme beberapa dekade lalu. dan prinsip ini pulalah yang dipakai demokrasi modern dengan penyelenggaraan pemilihan umum.

    operasi yang lain dan mirip-mirip adalah U (union dalam teori himpunan), dan lawannya adalah irisan (U terbalik). bila kita menggunakan operasi ini , maka muncul masalah sosial, karena itu kita perlukan karakteristik kelompok, sifat-sifat khusus kelompok yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan melakukan penjumlahan biasa, dimamana sifat kelompok tidak sama dengan jumlah sifat individual.

    apa dasarnya bila kita ingin memperoleh sifat dasar kelompok itu – apa yang menjadi karakteristik utama dari ‘pluribus”, karena kita tidak hanya akan tinggal diam pada kondoisi pluribus – kita sebagai bangsa ingin mencapai sesuatu seperti dijelaskan dalam preambule UUD.

    sesungguhnya saya ingin mengatakan suasana kebatinan yang saya rasakan ketika membaca prambul UUD, yang dimulai dengan menyerah pada Kekuasaan Ilahiah, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, ketika UUD ditemukan sebagai sumber hukum positif dan KeEsaan Ilahiah yang termaktub dalam pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Dengan sendirinya Ketuhanan Yang Maha Esa – atau Tauhid adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan, sumber segala hukum.

    Suka

  5. trima kasih ya. kalau bisa, agar lebih jelas dan mudah di pahami tolong jelaskan secara terperinci :
    1. pengertian falsafah. 2. fungsi dan tujuan falsafah. 3. ruang linkup, tradisi dan kategiri falsafah serta 4. perbedaan antara falsafah dan filsafat.
    saya minta jika mengkritik tulisan anda, salam dari say. jika ingin meminta masukan atau bantuan berupa ilmu pengetahuan dalam penyempurnaan tulisan anda silakan hubungi no hp : 085253239487 atau lewat e-mail saya. Trims

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s